Wednesday, September 14, 2016

GRATIS

BIAYA HIDUP Tampak seorang pemuda berjalan gontai di hari menjelang magrib. Dia suntuk, pekerjaannya sebagai karyawan sebuah apotik t... thumbnail 1 summary

BIAYA HIDUP

senyuman kakek

Tampak seorang pemuda berjalan gontai di hari menjelang magrib. Dia suntuk, pekerjaannya sebagai karyawan sebuah apotik ternyata hanya cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dia tidak seperti teman-teman sekolahnya dulu, yang dia anggap lebih sukses daripada dirinya. Dalam hati dia berkeluh kesah. Kenapa saya begini aja hidupnya? Kenapa Alloh SWT tidak mengabulkan do’aku untuk jadi orang kaya? Dan berbagai pertanyaan lainnya yang intinya memprotes kenapa Alloh SWT terlihat pelit bagi dirinya. Dengan mata menerawang jauh, dia terus berjalan pulang.

lunglai lemas payahTernyata ada juga senasib denganku, kata pemuda itu dalam hati saat matanya melihat seorang kakek tampak istirahat disamping gerobak dagangannya di pinggir jalan. Pemuda itupun mendekat.

“Assalamu’alaikum” sapa pemuda tersebut.

“Wa’alaikum salam.” Balas kakek tua 

“Sedang istirahat pak?”

“Iya nak, kalo anak sendiri?”

“Saya baru pulang kerja di apotik. Boleh saya duduk disini? Istirahat sambil ngobrol dengan kakek?”

“Boleh-boleh, silakan.” Jawab si kakek tua sambil menggeser duduknya.

“Kakek sudah lama kerja dagang?”

“Iya nak.”

“Cukup untuk kehidupan sehari-hari?” Tanya pemuda itu.

“Yaa, dicukup-cukupkan nak.”

“Ternyata hidup kita senasib kek. Kita tidak seberuntung yang lain. Ternyata Alloh tidak pemurah seperti yang kita anggap selama ini.”

Tersenyum si kakek mendengar keluh kesah pemuda tersebut. Kemudian kakek itu menjawab keluh kesah si pemuda, yang membuat si pemuda takjub dan hanya bisa menangis terharu.

“Anakku, ketahuilah, sesungguhnya Alloh SWT adalah Maha Pengasih dan Maha Penyayang, kenapa? Karena seandainya umur ini kita gunakan untuk menghitung nikmat Alloh SWT, maka niscaya kita tidak akan mampu menghitungnya. Dalam Al Qur’an dikatakan dalam Surat An Nahl ayat 16-18 : “Dan Jika kamu menghitung-hitung nikmat Alloh SWT, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnnya Alloh benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Kita ambil contoh bidang pekerjaan yang anak lakukan di apotik, bidang kesehatan. Coba kita hitung harga napas kita sehari saja. Kakek tahu harga oksigen dan nitrogen di apotik, karena kakek pernah membelinya saat sakit dulu. Tentu kisanak lebih tahu, karena kerja di apotik. 

Harga  Oksigen lebih kurang Rp. 25 ribu per liter dan harga Nitrogen di apotik lebih kurang Rp. 10 ribu per liter. Ketahuilah, dalam sehari manusia menghirup 2.880 liter oksigen dan 11.376 liter nitrogen. Jadi kalau dihitung dalam sehari:

  2.880   x  Rp. 25.000 =    72. 000.000
11.376   x  Rp. 10.000  =  113. 760.000
Jadi total biaya bernapas sehari = Rp. 185.760.000. 

Jadi untuk 1 bulan biaya bernapas kita adalah 30 hari x Rp. 185.760.000 = Rp. 5.572.800.000.

Untuk 1 tahun yang berarti 12 bulan, maka 12 x Rp. 5.572.800.000 = Rp. 802.483.200.000. 

Kakek memperkirakan umur kisanak 27 tahun, jadi 27 th x Rp. 802.483.200.000 = Rp. 21.667.046.400.000.

Lantas, sudah berapa lamakah kita hidup di bumi Alloh ini? Bukankah semua Oksigen dan Nitrogen itu kita nikmati dengan gratis. Sungguh manusia pada hakikatnya sangat lemah dan tidak layak berlaku sombong di muka bumi ini. Kakek prihatin dengan seorang pemimpin kota yang pernah berkata dan diliput media massa. “Tidak ada yang gratis di dunia ini.” Entah siapa Tuhannya sampai berkata demikian. Apa Tuhannya tidak pernah memberi gratis kepada dia? Orang yang paling kayapun tidak akan sanggup melunasi biaya napas hidupnya. Itu baru napas, belum yang lainnya.

Sungguh Alloh Maha Pemurah atas segala karunia-Nya. Tak terkecuali nikmat Alloh dari udara yang digunakan manusia sebagai bahan bernapas setiap saatnya. Maha Suci Alloh, Udara yang melimpah ruah di alam adalah bukti kasih sayang Alloh yang luar biasa. Jadi sudah sepantasnya kisanak bersyukur kepada-Nya, Karena kisanak mendapatnya secara....

....GRATIS




sumber : google, wikipedia, MU, dll

No comments

Post a Comment